AGEN RESMI XAMTHONE PLUS KOTA BANDUNG DAN JAWA BARAT
SENIN, 02 JANUARI 2012
Hasil Riset Kulit Manggis
Mengubah sampah menjadi emas.
Delapan tahun lalu tas selempang yang biasa Eli Reich bawa kerja dicuri orang. Bukannya membeli tas baru, pria asal Seattle, Amerika Serikat, itu malah membuat sendiri tas dari bagian dalam ban sepeda bekas yang teronggok di rumah.
Eli bagai Midas. Dari karet bekas itu tercipta desain tas yang keren. Banyak orang terpikat dan minta dibuatkan. Insinyur teknik mesin itu pun memutuskan berhenti kerja dan membangun “pabrik” kecil di ruang bawah tanah apartemennya. Mula-mula ia hanya memproduksi 5—10 tas per bulan yang dikerjakan sendiri.
Berikutnya setelah mempekerjakan karyawan, Eli memproduksi 125 tas di tahun pertama, lalu 1.000 tas di tahun kedua dan seterusnya. Penggemar sepeda itu mengumpulkan bahan baku berupa ban bekas dan sabuk pengaman dari tempat pembuangan sampah setempat dan toko sepeda. Kini produk tas Reich’s Alchemy Goods milik Eli dipajang di gerai-gerai di Washington, Oregon, Pennsylvania, Kalifornia, dan Montana, serta dua toko di Jepang.
Limbah
“Nasib” kulit manggis nyaris serupa ban sepeda bekas. Kita biasa membuka dan membuang kulit manggis ketika hendak menikmati buahnya. Kini banyak pasien menggantungkan harapan pada kulit queen of fruit itu. Pemicunya hasil riset yang menyebut kandungan xanthone dalam kulit manggis sebagai superantioksidan. Itu berarti kulit manggis potensial mengatasi penyakit kanker seperti diteliti oleh Yukihiro Akao dari Institut Bioteknologi Gifu, Jepang, yang dipublikasikan pada Maret 2008.
Temuan itu diikuti dengan riset-riset lanjutan yang mengungkap keandalan kulit Garcinia mangostana mengatasi sakit jantung, osteoporosis, hipertensi, stroke, hingga HIV/AIDS. Sayang pasokan kulit manggis tergantung pada musim buah. Seorang produsen olahan kulit manggis di Jakarta sampai mendatangkan bahan baku dari Bali. Oleh karena itu para peneliti tergerak meriset bagian lain seperti daun dan kulit batang pohon manggis.
Kulit manggis bagai mengikuti jejak langkah daun sirsak. Setahun lalu, apakah ada toko buah menjual daun sirsak? Popularitas daun tanaman Annona muricata itu mencorong sejalan dengan terungkapnya berbagai riset dan pengalaman pasien yang kondisinya dari sakit—terutama kanker—karena mengonsumsi daun sirsak.
Diawali oleh riset Jerry McLaughlin dari Purdue University yang mengungkap kandungan acetogenins pada daun sirsak, bukti ilmiah lain terus bermunculan. Banyak pemilik pohon melaporkan tanaman gundul karena banyak pasien kanker membutuhkan daunnya. Harga bibit pun naik berlipat. Berkat dukungan riset, daun sirsak—dan kemudian kulit manggis—yang semula terabaikan kini diandalkan. (Evy Syariefa)
Keterangan foto
- Riset di berbagai negara menegaskan khasiat kulit manggis atasi berbagai penyakit
- Berkat riset ilmiah kini banyak pasien kanker tertolong karena mengonsumsi daun sirsak
- Ban sepeda nantinya bisa disulap jadi tas selempang keren
Peluru di Sekujur Pohon

Tak ada rotan akar pun jadi, maka tak ada kulit buah manggis, daun pun berkhasiat.
Selama ini para herbalis dan dokter memang hanya memanfaatkan kulit buah manggis untuk mengatasi beragam penyakit. Riset mutakhir kemudian menyingkap bahwa kulit buah Garcinia mangostana memiliki sekitar 50 jenis senyawa xanthone. Jumlah itu adalah yang terbanyak di antara 200-an jenis xanthone hasil isolasi dari alam. Artinya, dari 200-an jenis xanthone, seperempat di antaranya terdapat pada kulit buah manggis.
Senyawa aktif multikhasiat memang terkonsentrasi di kulit buah. Harap mafhum, kulit buah benteng pertahanan terhadap musuh biotik seperti serangga hama. Menurut periset di Departemen Kimia, Universitas Indonesia, Dr Ir Antonius Herry Cahyana, manggis menyimpan xanthone lebih banyak di kulit buah sebagai pelindung terhadap gangguan lingkungan. Sebab, pada buahlah manggis memperbanyak diri secara alami atau perbanyakan generatif.
Tersebar
Namun xanthone juga ditemukan di daun, batang, dan, akar pohon anggota famili Clusiaceae itu. Periset di Sekolah Farmasi, The Ohio State University, Amerika Serikat, Young Won Chin dan rekan, berhasil mengisolasi dua jenis senyawa xanthone baru pada daging buah manggis, yakni 1,2-dihydro-1,8,10-trihydroxy-2-(2-hydroxypropan-2-yl)-9-(3-methylbut-2-enyl)furo[3,2-a]xanthen-11-one dan 6-deoxy-7-demethylmangostanin.
Mehtab Parveen dan Nizam Ud-din Khan dari Departemen Kimia, Aligarh Muslim University, India, mengungkap adanya xanthone pada daun manggis. Mereka berhasil mengisolasi dua jenis senyawa xanthone, yakni 1,5,8-trihydroxy-3-methoxy-2[3-methyl-2-butenyl]xanthone dan 1,6-dihydroxy-3-methoxy-2[3-methyl-2-butenyl]xanthone. Itulah sebabnya, Herry Cahyana mengatakan daun manggis juga berkhasiat obat. Apalagi manggis juga tak berbuah sepanjang tahun. Pada bulan-bulan tertentu, ketika kerabat nyamplung itu tak berbuah, kita dapat memanfaatkan daun untuk obat.
Herbalis di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Lukas Tersono Adi, meresepkan daun manggis bila pasien merasa efek samping konsumsi kulit buah manggis, yakni mual, sakit kepala, dan sakit perut. Lukas menyarankan untuk merebus 3 lembar daun manggis tua berukuran sedang dalam 3 gelas air hingga mendidih, dan tersisa 1—1,5 gelas. Pasien silakan minum air rebusan itu setiap pagi dan sore. “Daun manggis dapat digunakan untuk mensubtitusi kulit manggis dan berkhasiat memperbaiki pencernaan serta gangguan metabolisme tubuh,” ujar alumnus Universitas Diponegoro itu.
Akar pohon
Selain pada daun, inti batang manggis juga mengandung xanthone sebagaimana hasil riset Nilar dan Leslie J. Harrison dari Departemen Kimia, Universitas Nasional Singapura. Mereka mengisolasi 20 jenis senyawa xanthone pada inti batang tanaman. Peneliti di Jurusan Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Wahyu Budi Sukarni, menemukan senyawa xanthone pada akar manggis yang berkayu.
Bahkan, kulit akar manggis pun tetap mengandung senyawa xanthone. Itulah hasil penelitian Rike Violentina dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang menemukan betamangostin. Lina Mardiana, herbalis di Yogyakarta memanfaatkan akar manggis untuk menetralisir efek samping dari kulit manggis seperti sakit perut. Beberapa pasien mengeluh sakit perut setelah mengonsumsi kulit buah manggis. Ketika itulah ia menumbuk akar manggis hingga memperoleh serbuk berbobot 50 gram, lalu merebus dalam setengah gelas air hingga menjadi seperempat gelas. Dalam waktu 2—3 hari, keluhan pun hilang.
Menurut ahli farmasi dari Universitas Airlangga, Dr Mangestuti Agil Apt MS, daun, akar, dan kulit batang manggis memiliki potensi yang sama seperti kulit buah manggis untuk dijadikan obat. Secara tradisional masyarakat Filipina terbiasa memanfaatkan daun dan kulit batang sebagai obat penurun panas, diare, disentri, dan sulit berurine. Masyarakat Jepang memanfaatkan daun dan akar manggis untuk mengobati eksem dan penyakit kulit lain.
Khasiat kulit batang manggis sebagai obat disentri dan diare seperti kebiasaan masyarakat Filipina itu sejalan dengan riset Ai Kuraishin dari Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, Bandung. Khuraishin membuktikan bahwa kulit batang manggis berkhasiat antibakteri terhadap bakteri penyebab diare Bacillus cereus, Escherichia coli, dan Pseudomonas aeruginosa. Pada konsentrasi 2%, ekstrak etil asetat dari kulit batang mampu menghambat 17,90 mm B. cereus, 16,72 mm E. coli, dan 16,18 mm P. aeruginosa. Jadi, meski musim buah manggis belum tiba, kita tetap dapat mereguk khasiat xanthone dengan mengonsumsi daun manggis. (Andari Titisari)
Senjata Ampuh Ratu Buah
Daun mengandung 1,5,8-trihydroxy-3-methoxy-2[3-methyl-2-butenyl]xanthone dan 1,6-dihydroxy-3-methoxy-2[3-methyl-2-butenyl]xanthone.
1,2-dihydro-1,8,10-trihydroxy-2-(2-hydroxypropan-2-yl)-9-(3-methylbut-2 enyl)furo[3,2-a]xanthen-11-one dan 6-deoxy-7-demethylmangostanin adalah senyawa xanthone anyar pada daging buah manggis
Kulit buah sang ratu mengandung sekitar 50 jenis senyawa xanthone, antara lain α- mangostin, β-mangostin, ɣ-mangostin, mangostanol, mangostenol, 1-isomangostin, 1-isomangostin hydrate, 3-isomangostin
Ai Kuraishin telah membuktikan kulit batang manggis mampu melawan bakteri penyebab diare pada konsentrasi 2% ekstrak etil asetat.
Pada initi batang pohon manggis teridentifikasi 20 jenis senyawa xanthone, antara lain garcinafuran, dimethylmangostin, 1,6-dihydroxy-3,7-dimethoxy-2-(3-methylbut-2-enyl)-8-(2-oxo-3-methylbut-3-enyl)-xanthone dan 1,6-dihydroxy-3,7-dimethoxy-2-(3-methylbut-2-enyl)-xanthone
Di akar terdapat β-mangostin dan 1,3-dihidroksi-bis[6’,6’-dimetilpirano (2’,3’:5,6:7,8)]xanthone
Keterangan foto
“Xanthone menyebar di seluruh bagian tanaman manggis tak hanya di kulit buah,” ujar Dr Herry Cahyana
Daun manggis mampu menetralisir efek samping konsumsi kulit manggis
Mana lebih efektif mengonsumsi kulit manggis dalam bentuk kapsul, rebusan, atau jus?
Mana lebih efektif mengonsumsi kulit manggis dalam bentuk kapsul, rebusan, atau jus?
Herbalis di Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati, hanya menggunakan sediaan kulit manggis dalam bentuk serbuk. Ia mengeringkan di bawah sinar matahari dan menghancurkan kulit buah manggis dengan mesin penepung. Pasien tinggal menyeduh atau merebus serbuk kulit manggis itu. Valentina hanya menggunakan air dalam perebusan dan tidak pernah mengekstrak kulit manggis.
Alumnus Universitas Parahyangan itu selalu memberikan herbal pendamping agar tubuh optimal menyerap khasiat kulit manggis. Ia tidak menambahkan pati berupa tepung jagung sebagai pengikat maupun penambah volume. Sebab, menurut Valentina pati cepat rusak sehingga daya simpan simplisia dalam bentuk bubuk itu tak awet. Selain itu penambahan pati menyebabkan tubuh lebih lama mencerna khasiat kulit manggis.Tergantung pencernaan
Dokter dan herbalis di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dr Paulus Wahjudi Halim Med Chir, meresepkan kulit manggis dalam bentuk sediaan yang berbeda-beda tergantung sistem pencernaan dan penyerapan pasien. Bila sistem penyerapannya kurang baik, Paulus menyarankan pasien untuk merebus kulit manggis. Namun, pasien dengan pencernaan baik, silakan menggunakan bubuk kulit manggis atau ekstrak kulit manggis.
“Kemampuan penyerapan pasien harus diperhatikan karena bahan aktif herbal akan masuk melalui sistem pencernaan sehingga pengobatan lebih efektif,” tutur Paulus. Menurut Paulus konsumsi rebusan kulit manggis dan herbal pendamping, hasilnya lebih baik. Sebab, konsumsi sediaan steril dan saat pengolahan mencapai titik didih. Selain itu tubuh lebih mudah menyerap ramuan dalam bentuk cair.
Bila ingin praktis saat berpergian, pasien dapat mengonsumsi ekstrak kulit manggis dalam kapsul sehingga tidak perlu menyeduh atau merebus. Untuk menyiasati pasien bermasalah pencernaan, dokter alumnus Universitas Degli Studi Padova, Italia, itu menambahkan herbal berupa rimpang kunyit, asam, bunga cengkih, rimpang jahe, buah pala, jintan, atau rimpang kencur.
Prof Dr Sumali Wiryowidagdo MSi Apt mengatakan ada dua teknik mengolah kulit manggis, yaitu cara basah dan kering. Cara basah bisa berupa jus atau rebusan. Untuk rebusan bisa dengan infusa—perebusan selama 15 menit setelah air mendidih—dan dekokta—perebusan selama 30 menit setelah air mendidih. “Lamanya perebusan tergantung bahan yang direbus tahan panas atau tidak,” kata Sumali.
Menurut guru besar Farmasi Universitas Indonesia itu kulit manggis termasuk bahan yang tahan panas. Oleh karena itu, waktu 30 menit setelah perebusan termasuk optimal untuk mengekstrak bahan aktif dalam kulit manggis. Bila hendak menyiapkan sediaan dengan cara kering, suhu pengeringan maksimal 600C agar enzim dalam kulit manggis tak rusak. Menurut Sumali, kadar yang diekstraksi dari rebusan lebih tinggi daripada serbuk dalam kapsul.
Kemampuan menyerap
Di pasaran terdapat banyak sediaan kulit manggis yakni jus, kapsul, dan serbuk. Menurut Sumali tidak ada penggunaan sediaan khusus berkaitan dengan penyakit. Misalnya, pasien diabetes lebih cocok mengonsumsi kulit manggis dalam bentuk kapsul. Oleh karena itu, penentuan jenis sediaan kulit manggis tidak dikaitkan dengan jenis penyakit, melainkan kemampuan tubuh menyerap herbal. “Berbagai jenis sediaan dibuat hanya untuk kemudahan pasien mengonsumsi herbal,” tutur Sumali.
Herbalis di Yogyakarta, Lina Mardiana, misalnya, meresepkan kulit manggis dalam bentuk puding kulit manggis untuk penderita jantung bocor. Ia mengambil kulit manggis bagian dalam, meremas sampai hancur, menambahkan gula aren atau madu, dan diamkan dalam lemari es hingga mengeras seperti cincau. Untuk menghilangkan rasa pahit, ia menambahkan agar-agar terutama bagi pasien anak-anak.
Selain puding Lina juga menganjurkan pasien yang mengalami gangguan ginjal seperti batu ginjal, kencing batu, dan pengapuran saluran kemih untuk mengonsumsi kopi kulit manggis. Caranya cincang bagian dalam kulit manggis lalu keringkan dan sangrai. Konsumsi kopi 3 kali sehari dengan minum air putih 15 menit kemudian. Selain kopi penderita sakit ginjal juga bisa menikmati rebusan kulit manggis dengan kacang hijau bertabur gula aren.
Bagaimana konsumsi kulit manggis dalam jangka panjang? Dosen dan peneliti di Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Dr Agung Endro Nugroho MSi Apt, menguji toksisitas kulit manggis berdosis 50—1.000 mg per kg bobot badan. Ia memberikan ekstrak secara oral pada tikus, kemudian melihat efeknya setelah 24 jam (pada uji toksisitas akut).
Ternyata hingga dosis tertinggi yang digunakan 1.000 mg per kg bobot tubuh, kulit manggis tidak menunjukkan efek toksik dilihat dari tidak adanya tikus yang mati. Pada uji toksisitas subkronik, pemberian ekstrak etanol kulit manggis berkala selama 28 hari. Selanjutnya Agung mengamati organ-organ tikus. ”Hasilnya, pengamatan mikroskopis pada organ-organ vital tikus seperti paru-paru, ginjal, hati, dan testis tidak menunjukkan perubahan fisik atau kerusakan,” ujarnya. Artinya, pemberian ekstrak etanol kulit manggis itu tidak menunjukkan efek toksis pada organ-organ tikus.
Menurut Asep W Permana, peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor, Jawa Barat, tanin dalam kulit manggis menyebabkan kerja ginjal menjadi berat. Oleh karena itu konsumsi kulit manggis harus diikuti dengan minum air putih yang banyak untuk meringankan kerja ginjal. (Pranawita Karina/Peliput: Andari Titisari dan Desi Sayyidati Rahimah)
Keterangan foto
- Prof Dr Sumali Wiryowidagdo Msi Apt menyatakan kulit manggis sebagai obat antikanker tidak membahayakan sel lain yang sehat
- Sediaan kulit manggis dalam bentuk serbuk lebih aman
- Hasil rebusan kulit manggis lebih cepat diserap tubuh
- konsumsi ekstrak kulit manggis dalam kapsul lebih praktis
- Jus buah manggis dapat dikonsumsi untuk yang memiliki lambung seha
Penakluk Mikrob Bandel
Tak kasat mata tapi serangannya sungguh merepotkan. Infeksi mikrob bisa berujung maut.
Sakit itu sekonyong-koyong datang. Tjut Putri—sebut saja begitu namanya—mengeluh demam tinggi hingga di atas 39oC, mual, muntah, dan menggigil serta muncul ruam di tangan. Hasil pemeriksaan darah di rumahsakit di Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara, dokter muda yang tengah menjalani program Pegawai Tidak Tetap (PTT) itu terjangkit malaria dan gejala morbili alias campak.
Di daerah tempat Tjut berdinas, malaria memang tengah mewabah. Menurut dr Asep Saepul Rohmat SpPD di Poli Penyakit Dalam RS Pusat Pertamina, Jakarta, panas tinggi, menggigil, disertai gangguan di hati salah satu gejala penyakit malaria. “Lazimnya kasus malaria di tanahair berupa malaria tropikana dan malaria tertiana,” tutur Asep Saepul.
Malaria tropikana disebabkan infeksi Plasmodium falciparum, tertiana karena infeksi P. vivax. Malaria tropikana merupakan kasus berat karena bisa menyebabkan kematian akibat penyumbatan di pembuluh darah otak. Dokter Primal Sudjana SpPD dari Divisi Penyakit Tropik-Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, mengatakan salah satu ciri serangan malaria tropikana pasien mengalami panas tinggi dan rendah berselang sehari-sehari. Pada tertiana bisa berselang hingga tiga hari.
Lumpuh
Tiga hari berbaring di rumahsakit, Tjut memutuskan pulang dan melanjutkan perawatan di rumahsakit di kampung halaman di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Di rumahsakit Tjut mendapatkan obat antimalaria, infus, dan suplemen makanan. Namun, ruam menjalar hingga seluruh tubuh. Menurut Asep Saepul malaria bisa saja disertai komplikasi antara lain terjadinya pendarahan di area kulit yang memunculkan ruam. “Namun peluang kemunculannya sangat kecil,” kata Primal. Ruam biasanya muncul pada kasus campak dan chikungunya akibat infeksi virus.
Pada hari keempat perawatan, Tjut menjalani pemeriksaan darah. Hasil pengecekan laboratorium menunjukkan infeksi bakteri plasmodium negatif. Hari itu juga Tjut meninggalkan rumahsakit. “Tapi saya merasa seperti orang belum sembuh. Tubuh terasa lemas,” tuturnya. Saat beristirahat di rumah itulah sekonyong-konyong ia tak mampu menggerakkan tubuh bagai orang lumpuh. Jika mencoba menjejak lantai, nyeri tak terperi serta merta mendera. Dokter Asep Saepul menuturkan badan sulit bergerak biasanya terjadi karena infeksi virus.
Seorang paman yang menjenguk menyarankan Tjut mengonsumsi jus kulit manggis untuk meningkatkan stamina. Semula Tjut menolak, tapi kekhawatiran menjadi lumpuh akhirnya membuat ia mau mencoba. Perempuan muda itu meminum dua sloki masing-masing berisi 15 ml jus kulit manggis
iga kali sehari. Empat hari berselang kondisinya berangsur membaik. Rasa sakit saat kaki menjejak lantai hilang bahkan Tjut kini sudah kembali bertugas di Mandailing Natal.
Penelitian oleh Prof Dr Taslim Ersam, guru besar Kimia Bahan Hayati dan Spektroskopi Senyawa Organik, di Jurusan Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengungkap keandalan senyawa alfamangostin asal kulit manggis mengatasi malaria. Taslim Ersam bersama Kelompok Penelitian Aktivitas Kimiawi Tumbuhan ITS (PAKTI) mengisolasi senyawa-senyawa xanthone dari kulit batang, akar, kayu, dan buah manggis Garcinia mangostana. Mereka lalu melakukan pengujian secara in vivo pada tikus percobaan yang dibuat terjangkit parasit malaria.
Putus makanan
Dosen senior di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITS itu membagi tikus percobaan ke dalam dua kelompok terinfeksi parasit malaria. Kemudian pada kelompok pertama ia memberi ekstrak mangostin, kelompok lain tidak. Pada kelompok yang diberi ekstrak mangostin, Taslim membedakan perlakuan pemberian ekstrak kulit manggis mengandung xanthone sebanyak 0,01; 0,1; 0,3; dan 0,5 µg/ml.
Hasil riset menunjukkan pemberian ekstrak xanthone sebanyak 0,01 µg/ml mampu menekan laju pertumbuhan parasit. Menurut Taslim Ersam kandungan alfamangostin, salah satu turunan senyawa xanthone, mampu mengatasi malaria dengan menghalangi distribusi makanan untuk parasit. “Itu terlihat dari tempat makanan di vakuola yang kosong,” kata doktor alumnus Institut Teknologi Bandung itu.
Kemampuan itu diduga dilakukan dengan dua cara. Pertama parasit tidak mendapatkan makanan karena pasokan kosong. Kemungkinan kedua zat makanan tersedia tapi berubah menjadi senyawa yang tidak lagi bisa dikonsumsi parasit. Parasit gagal memperoleh pasokan makanan sehingga mati.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pada 2008 terjadi 411.797 kasus malaria di dunia. Sebanyak 788 di antaranya meninggal dunia. Diperkirakan sepertiga penduduk dunia menderita malaria. Setiap tahun 10-juta orang terjangkit penyakit karena protozoa Plasmodium falciparum, P. vivax, P. malariae, dan P. ovale itu. Sekitar 1-juta—2,5-juta di antaranya berakhir dengan kematian. Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk anopheles betina itu setiap detik membunuh 30 anak di dunia.
Diare pelancong
Infeksi bakteri merupakan salah satu penyakit akibat mikrob. Laman Departemen Mikrobiologi, University of Massachusetts Amherst, di Amherst, Massachusetts, Amerika Serikat, menyebut bakteri sebagai salah satu mikroorganisme penting dalam dunia medis selain cendawan, virus, dan protozoa.
Menurut Primal Sudjana sejatinya mikrob ada di dalam tubuh manusia. Misal mikrob pada kulit yang mengubah keringat menjadi asam sebagai salah satu sistem pertahanan tubuh dari serangan mikrob luar. Mikrob juga terdapat pada usus untuk membantu proses pencernaan makanan. “Tapi dalam sistem darah harus steril dari mikrob sebab itu menyebabkan sakit,” tutur dokter di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, itu. Bahkan dalam kondisi tubuh lemah, mikrob baik di dalam tubuh pun bisa menyebabkan sakit. Artinya, infeksi makhluk tak kasat mata itu tak bisa diremehkan.
Pada pertengahan 2011 dunia dihebohkan dengan wabah bakteri Escherichia coli. Dalam hitungan minggu wabah menjangkiti berbagai negara Eropa seperti Austria, Republik Ceko, Denmark, Perancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Spanyol, Swiss, dan Inggris. Bakteri diduga menyebar lewat sayuran impor asal Jerman. Di negeri Tembok Berlin itu tercatat 17 orang meninggal. Di tanahair E. coli kerap dituding sebagai biang keladi kasus diare.
Prof Didier Montet dari Centre de Coopération Internationale en Recherche Agronomique pour le Développement (CIRAD), Perancis, dalam presentasi di sebuah acara mengenai ketahanan pangan yang diselenggarakan di Institut Pertanian Bogor pada 2009 menyebut diare sebagai salah satu penyakit paling mematikan.
Setiap tahun sebanyak 3-juta orang meninggal karena diare. Keganasannya setingkat lebih rendah dibanding penyakit AIDS yang menyebabkan 3,1-juta kasus kematian per tahun. “Kasus diare biasanya berkaitan dengan keamanan pangan,” kata Didier. Pangan sehat dan aman mesti terbebas dari kontaminan logam berat, bahan kimia seperti melamin dan residu pestisida, patogen dan cendawan. Bakteri E. coli kerap menular melalui pangan tidak hieginis.
Konsumsi kulit manggis bisa mengatasi infeksi bakteri anggota famili Enterobacteriaceae itu sebagaimana riset oleh Prof Elin Yulinah Sukandar dan tim dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Mereka mengisolasi senyawa mangostin, betamangostin, dan alfamangostin kulit manggis. Lalu menguji efektivitasnya menghambat pertumbuhan bakteri Shigella flexneri, Salmonella typhi, dan E. coli menggunakan metode difusi agar dengan konsentrasi 10 mg/dl. Hasil uji menunjukkan semua isolat aktif menghambat pertumbuhan bakteri. Hambatan paling besar dimiliki esktrak heksana senyawa mangostin. “Dengan begitu kulit manggis potensial dimanfaatkan untuk mengatasi penyakit diare, pun disentri dan tifus,” kata Elin.
Tuberkulosis
Riset lain di berbagai negara kian menguatkan peran kulit manggis sebagai antimikrob. Sunit Suksamrarn dan rekan dari Univesitas Srinakharinwirot, Thailand, meriset kemampuan alfamangostin, betamangostin, dan garcinone-B kulit manggis menekan pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab TB (tuberkulosis).
Sementara Werayut Pothitirat dan rekan dari Universitas Mahidol, Thailand, mengungkap khasiat kulit manggis mengatasi masalah kesehatan kulit seperti jerawat. Periset mengekstrak 10 g serbuk kulit manggis dengan 1.000 ml dengan pelarut heksana, diklorometan, dan etanol. Pada ekstraksi dengan air, mereka merebus sebanyak 10 g serbuk dalam 200 ml air selama sejam.
Ekstrak diuji pada bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis penyebab jerawat membandel. Mereka kemudian mengecek angka MIC—minimal inhibitory concentration—serta nilai MBC—minimal bactericidal concentration—atau nilai ekstrak pada konsentrasi terendah yang menyebabkan tidak ada pertumbuhan bakteri setelah disubkultur ke media baru.
Makin rendah nilai keduanya makin baik. Hasil riset menunjukkan ekstrak dari diklorometan menunjukkan nilai MIC dan MBC paling rendah di antara 3 pelarut lainya, masing-masing sebesar 3,91 µg/ml dan 15,63 µg/ml. Periset menyebutkan kandungan alfamangostin pada ekstrak merupakan senyawa utama yang bekerja menekan pertumbuhan bakteri. Pada kulit sang ratu mikrob pun menyerah. (Evy Syariefa/Peliput: Faiz Yajri, Pranawita Karina, dan Tri Istianingsih)
Polah Escherichia coli
- Menyebabkan muntah, diare, demam, dehidrasi, dan syok
- Masa inkubasi 6—24 jam
- Durasi sakit beberapa hari hingga beberapa minggu
- Sumber infeksi dari makanan tercemar kotoran manusia dan ternak, produk daging dan susu mentah
- Prevalensi tinggi terjadi di negara berkembang, lebih dari 100 kasus per 100.000 penduduk
- Anak-anak dan orangtua lebih rentan
- Infeksi serius menyebabkan gagal ginjal akut disertai kerusakan sel darah merah, gangguan saraf, stroke, dan koma. Pada kondisi ini tingkat kematian akibat infeksi sebesar 3—5%
- Salah satu pencegahan dengan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan mengolah makanan dengan benar
Pemutus Rantai Makanan
Prof Dr Taslim Ersam menuturkan di dalam darah parasit Plasmodium falciparum “menyantap” asam amino dan hemozion yang berasal dari pemecahan hemoglobin. Mula-mula hemoglobin memecah menjadi asam amino dan globin. Globin kemudian berubah menjadi heme yang bersifat racun pada parasit. Namun, parasit memiliki kemampuan mengubah heme menjadi hemozoin sehingga tidak lagi bersifat racun.
Pemberian alfamangostin dari kulit manggis diduga menghalangi distribusi makanan untuk parasit. Caranya dengan membuat pasokan makanan kosong atau mengubah makanan menjadi bukan makanan. Senyawa alfamangostin menghalangi proses polimerisasi heme menjadi hemozoin sehingga tetap bersifat racun bagi parasit. Ketika tidak mendapatkan stok makanan parasit mati.***
Keterangan foto
- Prof Taslim Ersam, kandungan alfamangostin pada kulit manggis berperan atasi malaria dengan memutus rantai makanan untuk parasit plasmodium
- Kulit manggis bersifat antimikrob
- Prof Elin Yulinah, buktikan keandalan kulit manggis atasi bakteri E. coli
- Pertengahan 2011 wabah bakteri Escherichia coli menjangkiti berbagai negara Eropa seperti Austria, Republik Ceko, Denmark, Perancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Spanyol, Swiss, dan Inggris. Bakteri diduga menyebar lewat sayuran impor asal Jerman
- Kandungan alfamangostin, betamangostin, dan garcinone B hambat perkembangan bakteri penyebab tuberkulosis
- Memasak makanan hingga matang sempurna salah satu cara cegah infeksi E.coli
.jpg)



0 komentar:
Poskan Komentar